FAQs

Apa itu GAW ?
Global Atmosphere Watch (GAW) merupakan sebuah program yang diluncurkan oleh World Meteorological Organization (WMO) – sebuah badan PBB yang mengurusi bidang meteorologi – untuk melakukan pengamatan berbagai parameter yang ada di atmosfer bumi.

Apa misi dari pembentukan GAW ?
Ada tiga misi utama GAW, yaitu:

  1. Untuk melakukan pengamatan yang komprehensif dan terpercaya terhadap komposisi kimia dan fisika atmosfer dalam skala global dan regional;
  2. Sebagai sarana komunitas ilmiah untuk melakukan prediksi terhadap kondisi atmosferik; dan
  3. Melakukan penyelidikan guna mendukung pembuatan kebijakan di bidang lingkungan.


Bagaimana sejarah terbentuknya GAW ?
Cikal bakal terbentuknya GAW dimulai pada tahun 1950an ketika WMO membuat suatu program monitoring senyawa-senyawa kimia renik di atmosfer, dan juga melakukan penelitian polusi udara dari sudut pandang meteorologi. Pada tahun 1957, didirikanlah Global Ozone Observing System (GO3OS), yang bertanggung jawab dalam monitoring ozon. Tahun 1968, PBB mengadakan konferensi internasional yang membahas masalah lingkungan yang disebabkan oleh industrialisasi. Pada waktu yang hampir bersamaan, WMO membuat badan riset lingkungan lain, yaitu Background Air Pollution Monitoring Network.
Dalam konferensi yang dilaksanakan di Stockholm tahun 1972, PBB membahas beberapa masalah lingkungan, di antaranya:

  • Ancaman senyawa klorofluorokarbon (CFC) di atmosfer;
  • Asidifikasi danau dan hutan di Amerika Utara dan Eropa karena hujan asam;
  • Pemanasan global yang diakibatkan oleh emisi gas rumah kaca.

Oleh karena itu, PBB melalui salah satu badannya, WMO, mengusahakan untuk dibentuknya suatu program yang dapat menangani masalah-masalah di atas. Akhirnya, pada tahun 1989, program GAW yang merupakan kombinasi antara GO3OS dan Background Air Pollution Network diluncurkan. GAW terdiri dari jaringan stasiun pengamatan di seluruh dunia dengan fasilitas pendukung yang dapat menyediakan data-data atmosferik, dan juga sebagai sistem peringatan dini terhadap perubahan komposisi kimia dan fisika di atmosfer yang dapat menjadi permasalahan lingkungan. Permasalahan itu meliputi kondisi lapisan ozon, konsentrasi gas rumah kaca, presipitasi kimia, dan ancaman hujan asam.

Ada di mana saja jaringan GAW di dunia ?
Lebih dari 80 negara yang ikut berpartisipasi dalam program GAW, baik untuk pengamatan berskala global, regional, atau pendukung. Untuk skala global, hingga saat ini terdapat 28 titik yang menjadi tolok ukur dalam pengamatan kondisi atmosferik bumi. Titik-titik itu mewakili pengamatan atmosfer dari berbagai variasi iklim dan kondisi tropografis yang ada di bumi. Ke-28 titik tersebut antara lain Point Barrow, American Samoa, South Pole, Mauna Loa, dan Trinidad Head (Amerika Serikat), Alert (Kanada), Arembepe (Brazil), Ushuaia (Argentina), Ny Ålesund (Norwegia), Pallas-Sodankylä-Matorova (Finlandia), Neumayer dan Zugspitze/Schneefernerhaus-Hohenpeiβenberg (Jerman), Jungfraujoch (Swiss), Mace Head (Irlandia), Izaña (Spanyol), Assekrem-Tammanrasset (Aljazair), Mount Kenya (Kenya), Cape Verde (Republik Cape Verde), Cape Point (Republik Afrika Selatan), Amsterdam Island (Prancis), Mount Waliguan (Cina), Bukit Kototabang (Indonesia), Danum Valley (Malaysia), Minamitorishima (Jepang), Cape Grim (Australia), Launder (Selandia Baru), Pyramid (Nepal), dan Monte Cimone (Italia).

Bagaimana dengan GAW di Indonesia ?
Pelaksanaan program GAW di Indonesia dilakukan oleh Stasiun Pemantau Atmosfer Global yang berada di Bukit Kototabang, provinsi Sumatera Barat. Stasiun ini merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis di bawah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang spesifik melakukan pengamatan kondisi kimia dan fisika atmosferik, serta parameter kualitas udara. Stasiun ini menjadi satu-satunya stasiun referensi udara bersih di Indonesia.

Mengapa Bukit Kototabang ?
Pemilihan Bukit Kototabang sebagai titik pengamatan atmosfer global didasarkan oleh fakta letak geografis dan astronomisnya. Dari semua titik pengamatan, hanya Mount Kenya dan Bukit Kototabang yang merepresentasikan wilayah yang hampir tepat berada di lintang 0° (garis khatulistiwa). Namun berbeda dengan Kenya yang merupakan daerah gurun, Bukit Kototabang mewakili daerah yang memiliki hutan hujan tropis dengan tingkat kelembaban dan curah hujan yang tinggi. Selain itu, letak geografis Bukit Kototabang yang dekat Samudera Hindia menjadi kajian yang menarik dari sudut pandang meteorologi.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.