Tentang Kami

Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang (Global Atmosphere Watch) terletak di Pulau Sumatera, Indonesia (0° 12′ 07″ LS – 100° 19′ 05″ BT). Stasiun ini berjarak 17 km arah Utara kota Bukittinggi  dan lebih kurang 120 km Utara kota Padang yang merupakan ibukota provinsi Sumatera Barat. Stasiun yang berada di area terpencil ini terletak di daerah ekuatorial pada ketinggian 864,5 m di atas permukaan laut dan 40 km dari garis pantai bagian Barat. Arah angin berasal dari Selatan-Tenggara (Desember sampai Mei) atau Utara-Barat Laut (Mei sampai Oktober). Temperatur bervariasi dari 16 sampai 25°C dengan variasi yang sangat kecil dan kelembaban relatif biasanya lebih dari 80%. Fasilitas yang tersedia meliputi bangunan yang cukup luas yang menyediakan ruang kantor, ruang rapat, dan laboratorium. Di area atap seluas 300 m2, inlet udara dan beberapa peralatan radiasi dan meteorologi dipasang. Stasiun ini dapat dicapai dari jalan kecil yang tertutup untuk publik dan berjarak beberapa kilometer dari sebelah Barat jalan utama antara kota Padang dan Medan. Vegetasi yang mengelilingi area (30 km) sebagian besar berupa hutan tropis.

Stasiun ini merupakan bagian dari sistem monitoring dan riset yang dikoordinasi oleh World Meteorological Organization (WMO). Secara resmi mulai beroperasi sejak tanggal 7 Desember 1996 sebagai salah satu unit kerja dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang merupakan salah satu stasiun di daerah ekuatorial yang penting dalam program pengamatan atmosfer secara global karena secara umum pengukuran kondisi atmosfer dan kualitas udara di daerah ini sangat terbatas.

Ada tiga program pengamatan yang dilakukan di Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang, yaitu :

  1. Pengamatan Gas Rumah Kaca
  2. Pengamatan Kualitas Udara
  3. Parameter Fisis Atmosfer


Pengamatan Gas Rumah Kaca

Secara alami, atmosfer kita mengandung beberapa gas yang diklasifikasikan sebagai gas rumah kaca. Gas-gas tersebut menyebabkan efek yang disebut dengan efek rumah kaca yang dapat menjaga bumi tetap hangat sehingga cocok untuk tempat tinggal makhluk hidup. Akan tetapi, aktivitas manusia setelah era revolusi industri menyebabkan perubahan perubahan pada komposisi alami gas rumah kaca di atmosfer. Konsentrasi gas rumah kaca yang berlebih menyebabkan semakin banyak panas yang diserap oleh atmosfer dan menyebabkan peningkatan suhu udara di bumi atau yang kita kenal sebagai pemanasan global.

Menurut Protokol Kyoto, ada enam gas yang dikelompokkan sebagai gas rumah kaca, yaitu: karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitrous oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC), perfluorokarbon (PFC), dan sulfur heksafluorida (SF6). Empat dari enam gas tersebut telah diukur di Bukit Kototabang, yaitu: CO2, CH4, N2O, dan SFselama periode waktu 2004-2011. Pengukuran gas rumah kaca di Bukit Kototabang merupakan hasil kerjasama antara BMKG dan NOAA Amerika Serikat. Saat ini, pengukuran gas rumah kaca yang dilakukan secara monitoring di Bukit Kototabang adalah COdan CH4 yang merupakan kerjasama antara BMKG, MeteoSwiss, dan Empa.

Pengamatan Kualitas Udara

Secara umum, kualitas udara diukur dengan mengamati apakah konsentrasi parameter pencemaran udara yang terukur lebih tinggi atau lebih rendah daripada Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU). Pemerintah menetapkan nilai ISPU untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan masyarakat. Walaupun pemerintah telah menetapkan ISPU, ada beberapa kelompok orang yang masih rentan terhadap pencemaran udara, seperti anak-anak, lansia, penderita penyakit paru-paru dan jantung, yang akan terpengaruh oleh pencemaran udara lebih dahulu walaupun konsentrasi pencemaran udara yang terukur masih lebih rendah daripada ISPU. Ada 5 komponen pencemar udara yang dimasukkan dalam ISPU, yaitu: karbon monoksida (CO), ozon permukaan (O3), aerosol PM10, oksida nitrogen (NOx), dan sulfur dioksida (SO2). Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang telah mengukur kelima parameter tersebut.

Parameter Fisis Atmosfer

Temperatur udara merupakan salah satu dampak langsung dari perubahan iklim. Konsentrasi gas rumah kaca yang berlebih di atmosfer menyebabkan lebih banyak panas yang diserap atmosfer yang menyebabkan peningkatan temperatur permukaan bumi. Selain temperatur udara, curah hujan juga merupakan unsur cuaca, merupakan jumlah air hujan yang diterima oleh bumi, yang diprediksikan juga akan berubah. Perubahan jumlah curah hujan yang diterima juga diikuti oleh penurunan jumlah total hari hujan di dalam satu tahun. Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang mengukur kedua parameter ini, disamping pengukuran tekanan, arah dan kecepatan angin, serta kelembaban udara.